Senin, 2009 Juni 15

Pendeta Patriotisme Itu Pindah Tugas

JAMBI-Pendeta Patriotisme itu pindah dari Jambi. Warga GKPS se Resort Jambi mengucapkan kata perpisahan dan selamat melayani kepada Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III.

Banyak kenangan indah dan perjuangan dalam melayani Pdt Erwin D Sinaga di Rayon II Bungo Resort Jambi sejak tahun 2003 hingga Juni 2009.

Perjuangannya di GKPS Simpang TKA KM 44 Bungo dan GKPS Suka Makmur Kabupaten Tebo yang mendapat perlawanan penutupan dan pembakaran gereja di sana menjadi kisah penting perjalanan pelayanan Pendeta ini.

Dia menjadi tonggak paling depan dalam mengatasi konflik yang berbau SARA itu. Melaui tangan dinginnya, dirinya mampu menjadikan suasana Kondunsif.

Jiwa pratiotismenya dalam pelayanan menjadi saksi bagi ratusan warga GKPS Resort Jambi dalam menghadapi persoalan dalam ijin beribadah dan membangun tempat ibadah. Berdiri dibarisan paling depan, menjadi bukti kesetiaannya dalam Pelayanan di GKPS.

“Selamat melayani di tempat yang baru. Semoga kesaksian-kesaksian nyata Bapak Pendeta Sinaga dapat menjadi motivasi kami dalam melayani Jemaat sepenuh hati. Seperti Umpasa Simalungun” Timbaho Ni Simorbou, Ulang Mago Sanrigat. Age Lingot Panonggor, Ulang Lupa Pardingat,” demikian pesan dan kesan warga GKPS Jemaat Jambi dalam acara Perpisahan di GKPS Jambi, Minggu 14 Juni 2009. (Asenk Lee Saragih).

Jabat Tangan Anak SM GKPS Jambi kepada Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Kata Perpisahan Pemuda GKPS jambi Kepada Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Kata Perpisahan Seksi Wanita GKPS Jambi Kepada Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Pelukan Botouni Lisbet Sinaga (istriku) Kepada Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Kata Perpisahan Seksi Bapa GKPS Jambi Kepada Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Kata Perpisahan Pengurus GKPS resort Jambi Kepada Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Penyematan Pin Salib Emas Oleh Pendeta GKPS Resort Jambi Pdt JRR Purba STH kepada Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Diberangkatkan Dengan Makan Dayok Binatur Kepada Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Kata Perpisahan Keluarga Pdt Erwin Sinaga STh/br Purba yang pindah tugas ke GKPS Sidorame, Resort GKPS Medan Timur, Distrik III. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Jumat, 2009 Mei 29

Dicari “Raja Parhata” Pesta Adat Simalungun di Jambi

Jambi-Sauhur

Tokoh masyarakat Simalungun yang kini berdomisili di Kota Jambi masih minim untuk bisa diandalkan sebagai “Raja Parhata” pesta Adat Simalungun di Jambi. Kerap kali pesta adat Perkawinan orang Simalungun selalu memakai “Raja Parhata” tokoh masyarakat Batak Toba. Padahal tokoh Simalungun yang mengerti tentang Adat Perkawinan Simalungun di Jambi banyak.

Pengamatan Sauhur di Jambi setahun belakangan ini, setidaknya lima Pesta Perkawinan Adat Simalungun tidak “memakai” Raja Parhata” tokoh Simalungun. Tokoh Simalungun yang mengerti adat Simalungun tidak mau berani tampil di depan.

Para tokoh adat Simalungun ini cenderung hanya bisa mengomentari dibelakang pesta bahkan hanya bisa mengkritisi suatu Pesta Adat Perkawinan Simalungun. Namun ketika ingin dinobatkan sebagai “Raja Parhata” cenderung menghindar dengan alasan belum mampu tampil didepan.

(Sy Meslan Saragih SH. Foto Asenk Lee Saragih).
Tidak itu saja, Tokoh Masyarakat Simalungun yang sering tampil sebagai protokol dalam acara pesta Adat Simalungun, tidak mampu mempertahankan bahasa Simalungun hanya karena salah satu Suhut pesta dari etnis Toba.

Hal ini yang membuat bahasa, adat istiadat Simalungun tidak terregerasi kepada kaum muda, khususnya yang sudah lahir di perantauan luar Simalungun. Hingga kini masih minim contoh teladan yang dibuat Tokoh Masyarakat Simalungun di Jambi dalam menerapkan Adat, Budaya Simalungun.

Salah seorang tokoh masyarakat Toba di Jambi, R Sinaga kepada Sauhur mengatakan, penerapan Adat Perkawinan Simalungun di Jambi merupakan warna Budaya Batak di perantauan.

Namun sering kali pesta adat perkawinan Simalungun tidak berpegang teguh kepada Adat, Budaya dan Bahasa Simalungun. Padahal tokoh Simalungun di Jambi yang paham tentang adat budaya Simalungun banyak.

“Masa yang mengadakan pesta orang Simalungun kedua belah pihak, justru raja parsahapnya Tokoh Masyarakat Toba. Sehingga bahasan yang dipakai juga bahasa Toba. Padahal undangan mayoritas etnis Simalungun. Ini menjadi cambuk sebenarnya buat pelaku Adat Simalungun di Jambi,”katanya.

Menurut R Sinaga, sepengetahunnya, ada dua orang tokoh masyarakat Simalungun di Jambi yang bisa diandalkan sebagai “Raja Parhata” Pesta Adat Simalungun. Mereka yakni Sy Meslan Saragih SH dan Sy S Purba. Kedua tokoh ini sebenarnya sudah pantas sebagai “Raja Parhata” kalau ada Pesta Adat Simalungun.

Namun kedua tokoh ini, sering kali kurang diperhitungkan oleh masyarakat Simalungun yang menjadi “Suhut” Pesta Adat Simalungun. Kedua tokoh ini kerap disepelekan karen usianya masih tergolong muda untuk seorang tokoh adat.

“Saya selaku tokoh masyarakat Toba, bangga dengan Adat Budaya dan bahasa Simalungun. Apalagi dengan masakan khas “Dayok Binatur” itu cukup bermakna. Kemudian pemberian pakain Adat Khas Simalungun “Gotong dan Bulang” kepada pasangan pengantin. Hanya di Simalungun yang ada seperti ini,”katanya.

Diranya juga berharap semoga Tokoh Masyarakat Simalungun berani tampil didepan khususnya dalam pesta Adat Perkawinan Simalungun. Sehingga adat budaya Simalungun tetap abadi hingga ke perantauan.

Pengamatan Sauhur menunjukkan, kedua tokoh Simalungun (Sy Meslkan Saragih SH dan Sy S Purba) sudah pernah mencoba sebagai “Raja Parhata” di pesta Adat Perkawinan Simalungun di Jambi. Namun keduanya mendapat kritikan dari para orang tua Simalungun di Jambi.

Masyarakat Simalungun di Jambi meminta, agar kedua tokoh itu lebih memperdalam lagi pengetahuan tentang Adat Perkawinan Simalungun melalui buku-buku adat Simalungun atau sumber pengetahuan lainnya.

>(Sy S Purba. Foto Asenk Lee Saragih).em>
Sauhur juga pernah mempertayanya soal “Raja Parhata” itu kepada Sy S Purba. Menurutnya, dirinya sudah pernah mencoba sebagai “Raja Parhata” di pesta adat Simalungun. Namun dirinya kurang dihargai sebagian tokoh Simalungun di Jambi.

Hal yang sama juga pernah terjadi terhadap Sy M Saragih SH. Namun demikian dirinya tetap optimis dan selalu mengasah pengetahunnya tentang Adat, Budaya Simalungun. Bahkan Sy Meslan Saragih SH pernah menjadi nara sumber Seminar “Pesta Perkawainan Simalungun” dan telah menulis buku Ranggian Horja Adat Perkawinan Simalungun “Alob Dear”.

Sementara itu Pengurus GKPS Resort Jambi pernah mengadakan Seminar Adat Perkawinan Simalungun di Jambi, September 2008 lalu. Tampil sebagai pembicara saat itu tokoh muda Simalungun, Dr Sortaman Saragih SH MARS (Jakarta), St Joben Girsang (Pengurus Partuha Maujana Simalungun-Nagori Dolok) dan Sy Meslan Saragih SH (Tokoh muda Simalungun-Jambi).

Hasil seminar itu hingga kini tampak belum diaplikasikan kepada pelaksanaan Pesta Adat Perkawainan Simalungun di Jambi. Bahkan hasil seminar belum jadi dibukukan. Namun hasil seminar itu telah dimuat di Majalah Sauhur Edisi 8 Des 2008-Jan 2009 halaman 15-16. (Asenk Lee Saragih). Berita Ini Naik di Majalah Sauhur Edisi XI (Juni-Juli 2009).



Seksi Bapa GKPS Jemaat Jambi

Seminar Organisasi dan Managemen Keuangan Keluarga

Jambi-Sauhur

Pengurus Seksi Bapa Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Jemaat Jambi melakukan program fokus tahun Keluarga GKPS 2009 ini yakni dengan melaksanakan Seminar dan Lokakarnya sehari yang berlangsung di GKPS Jambi, Sabtu 9 Mei 2009 lalu.

Narasumber seminar itu yakni DR Sihol Situngkir SE MBA (Dosen Universitas Jambi) dengan mengambil thema seminar “Kiat Membangun Organisasi dan Kinerja Pelayanan” dan “Managemen Keuangan Keluarga Kristiani”. Seminar itu diikuti sebnyak 56 orang warga GKPS Jemaat Jambi. Tampil sebagai moderator Sy AJ Damanik SE.

Dalam pemaparannya, Sihol Situngkir mengatakan, membangun Sumber Daya Manusia (SDM) GKPS Jambi harus dengan pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi. Guna menunjang hal tersebut perlu perencanaan stratejik.

“Komponen keberhasilan visi, misi organisasi gereja meliputi kejujuran kepemimpinan, kejujuran manajemen dan kejujuran administrasi. Kontribusi produktif SDM terhadap organisasi sangat penting,”ujar pria kelahiran Samosir yang mendapat Beasiswa Supersemar (S1), Beasiswa Australia (S2) dan Beasiswa Bank Dunia (S3).

Menurutnya, GKPS Jambi perlu membuat dukungan dana pendidikan SDM bagi pelaku organisasi di dalamnya. Dalam organisasi harus ada transparansi karenanya kejujuran itu harus disertai dimensi manusia yang terdiri dari Roh, Jiwa dan Tubuh.

Kemudian dalam materi seminar “Kiat Membangun Ekonomi Keluarga yang Kristiani” Sihol Situngkir mengatakan, hal tersebut dimulai dari konsep tentang pola kestabilan ekonomi keluarga dalam rangka kelangsungan ekonomi keluarga dengan baik.

Konsep ini jarang diberikan dalam rangka proses persiapan perkawinan keluarga Kristiani. Akibatnya ada keluarga Krisntiani yang baru begitu gamang dalam menangani ekonomi keluarga terutama para ibu rumah tangga yang baru.

Disebutkan, dalam keluarga tidak jarang hanya ada satu yang bekerja, beraryi pendapatan satu (Y=1), namun banyak juga pasangan suami istri bekerja pendapatan dua (Y=2). Kemudian bagaimana Y1 dan Y2 dikonsumsi secara teratur untuk empat minggu kemudian ditambah dengan tabungan.

Foto bersama sebagian peserta seminar bersama pembicara DR Sihol Situngkir usai seminar selesai, Sabtu 9 Mei 2009 di GKPS Jambi. Foto Asenk Lee Saragih.

Keluarga Kristiani merupakan keluarga yang selalu bersyukur apa berkat yang diterimanya. Keluarga Kristiani juga harus selalu bersekutu di gereja walaupun tantangn hidup selalu mendera.

Keluarga Kristiani juga ditantang dengan uraian dalam Injil Matius 6 :22-23 yang menyatakan ‘mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu”.

Diulosi : Pembicara DR Sihol Situngkir SE MBA diulosi (Ulos Tapak Catur Logo GKPS Jambi) oleh Porhanger GKPS Jambi St Drs GM Saragih, MSi dan Ketua Seksi Bapa GKPS Jambi, H Tondang SH, Sabtu (9/5/2009). Foto Asenk Lee Saragih.

Perintah ini sungguh menantang bagi keluarga Kristiani. Keluarga Kristiani juga yang mampu merendahkan hati di hadapan Tuhan Yesus Kristus. Keluarga Kristiani menjadi orang yang mengedepankan ajaranNya dalam hidup.

“Keluarga Kristiani harus bisa hidup dengan SMS, Susah Melihat Orang Lain Susah, Senang Melihat Orang Lain Senang. Selama ini masih banyak dengan SMS2, yakni Senang melihat Orang Lain Susah dan Susah Melihat Orang Lain Senang,”katanya.

Seminar lokakarnya tersebut dimulai dengan ibadah yang dibawakan pendeta GKPS resort Jambi, Pdt JRR Purba STh dan Vikar Pdt S Girsang STh. Seminar lokakarnya itu juga membuat rumusan rekomendasi dari dua kelompok peserta semiar.

Hasil seminar juga telah dibawa dalam rapat Pengurus Seksi Bapa GKPS Jambi di Ruang serba guna GKPS Jambi, Kamis 21 Mei 2009. Selain pengurus, rapat itu turut dihadiri tiga Pimpinan Majelis GKPS Jambi, Pendeta dan Vikar.

Dalam rapat itu juga dilaporkan pembiayaaan serta rekomendasi hasil seminar lokakarya kepada Pimpinan Majelis GKPS Jambi guna ditindak lanjuti untuk kemajuan organisasi GKPS Jambi. (Asenk Lee Saragih).

Rabu, 2009 April 29

Musisi Cilik Tradisional Simalungun

Mereka ini musisi cilik Tradisional Simalungun asal SMPN 1 Sidamanik, Simalungun asuhan Rosul Damanik yang tampil memukau pada Pesta Rondang Bintang di Parapat Desember 2008 lalu. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Rosul Damanik saat lomba Marsordam.
Salah satu siswa SMPN 1 Sidamanik saat lomba tarian Khas Simalungun Pangkail.


Mereka Tampil Memukau Penonton di Open Stage Parapat Desember 2008 lalu. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Pengrajin Ukiran Simalungun Terabaikan

Pengrajin ukiran khas Simalungun, Jamanson Sipayung, salah seorang perupa Simalungun di Parapat berpendapat, pelaksanaan PRB kali ini identik dengan kegiatan di kecamatan saja.

"Tahun lalu kita pengrajin ukiran, pemahat Simalungun masih dilibatkan dalam kegiatan PRB ini. Namun kali ini tidak ada. Alasannya karena dana tidak ada. Ini adalah alas an yang mengada-ada. Panita PRB kali ini kurang peduli terhadap pelestarian Seni, Budaya, Adat Simalungun. Kegiatan PRB kali ini hanya seremoni Bupati Simalungun semata,"katanya.
Jamanson Sipayung.
Buah Karya J Sipayung di Parapat
Pengrajin ukiran khas Simalungun hingga kini masih terabaikan. Butuh perhatian serius dari berbagai pihak guna mengabadikan Seni, Budaya Simalungun di Tanah Simalungun khususnya. (Asenk Lee Saragih).


Rumah Seni Jamanson Sipayung dari Pemkab Simalungun di Parapat. Foto2 Asenk Lee Saragih.

Pelaku Seni Simalungun Kurang Dihargai

Pemerintah Kabupaten Simalungun dinilai kurang menghargai pekerja seni budaya Simalungun. Pekerja Seni Simalungun selalu dinomor sepatukan dalam penganggaran serta pembinaan seni, budaya Simalungun. Hal ini tampak dari kurangnya minat pelaku Seni Simalungun dalam kegiatan budaya yang dilaksanakan Kabupaten Simalungun.

Demikian dikemukakan dua putri pelaku seni Simalungun, Rosmaulina Saragih dan Rinta Saragih Garingging kepada Sauhur disela-sela penilian lomba Taur-taur Simbandar, Marsulim, Tarian, Marsordam di PRB di Parapat Desember 2008 lalu.


Menurut keduanya, pemerintah hingga kini kurang menghargai pekerja seni Simalungun. "Kita pekerja seni masih minim penghargaan, khususnya dalam anggaran pembinaan Seni, Budaya Simalungun. Namun demikian kita tetap peduli dan berkorban demi majunya Seni, Budaya Simalungun dinegeri sendiri,"ujar Rosmaulina. (Asenk Lee Saragih)

Potret Buruk Bupati Simalungun Mengabadikan Seni Budaya Simalungun


Ketua Partuha Maujana Simalungun (PMS) Kabupaten Simalungun, Drs St Jomen Purba didampingi Sekretaris PMS Kabupaten Simalungun, Tuahman Saragih saat berbincang-bincang degan Asenk Lee Saragih Sabtu (13/12/2008) di Parapat.

Keduanya mengatakan, kegiatan Pesta Rondang Bintang 2008 kurang terencana dengan baik. Seharusnya pelaksanaan PRB setiap tahunnya bulan Agustus. Namun karena kesibukan Bupati Simalungun, agenda rutin budaya tersebut dimundurkan. PRB ke XXII tahun 2008 ini potret buruk bagi Bupati Simalungun dalam mengabadikan Seni, Budaya Simalungun. (Beritanya Sudah Naik Ada di Majalah Sauhur Edisi 9).

Drs St Jomen Purba Saat Memainkan Gondrang di Parapat. Foto2 Asenk Lee Saragih.